Sabtu, 06 September 2008

PUISI-PUISI ABDUL KARIM AMAR

Puisi-Puisi Abdul Karim Amar

Kapal akan Berangkat

(Buat Sahabatku Arsyad Indradi)

Arsyad,

usia kita tidak terasa merangkak tua

sudahkah engkau membuat surat wasiat

untuk generasi atau untuk anak isteri

sebelum berangkat menuju liang lahat

Arsyad,

peruntungan engkau lebih daripada nasibku

Engkau sudah punya anak, isteri dan apa lagi

berpangkat serta berpenghasilan tetap

sedang aku masih sendiri

termenung terkadang bingung

perkawinan terlalu mahal untukku

berjuta-juta rupiah menghantar jujuran

kemudian nikah ke penghulu baseran

Arsyad,

aku banyak kehilangan seseuatu

kekasih, cinta, serta puisi yang terbakar

digiring usia terasa pangar

aku renungi masa lalu di mana kita ini

dahulu di RRI di untaian mutiara

sekitar ilmu dan seni

kita ramai membaca puisi demi puisi

Arsyad,

sahabat-sahabat serta petinggi-petinggi kita

sudah menutup mata

Yustan Azidin, Hijaz Yamani, Bachtiar Sanderta

Andi Amrullah, Ismail Effendi

Ajamuddin Tifani entah siapa lagi

dan nanti ke raga kita

lalu apa yang kita bawa

hitungan tasybih, zikir atau shalawat

yang dianjurkan imamul haq

atau seperti Hamid Jabbar yang jatuh terkapar

membaca puisi lalu mati

sedang di sana di depan menghadang titian panjang

serambut dibelah tujuh

apakah kita akan jatuh

atau kita tidak membawa apa-apa

kecuali raga yang hampa

ah, hari sudah senja kata D. Zaudhidie

dia pun telah pergi

Arsyad,

entah bisikan apa lagi yang datang

menggumuli jendela kamar yang berdebu

seakan terdengar ketukan pintu

tetapi aku selalu ragu

mungkin satu isyarat buatku

atau pertanda yang lelap di pembaringan

jasadku akan ditandu ke pemandian

Arsyad,

aku yang lama terkapar di Puskesmas

cemas dan terhempas

menatap pasien demi pasien dengan harap

minta diobati dari penyakit ke penyakit

sedang aku pun merasa sakit

Arsyad,

di rumah tua bolong peninggalan bunda ini

untung masih ada Mahmud Jauhari Ali

yang sibuk menulis artikel dan puisi

menyemangatiku—katanya

Anjang kapan menulis puisi lagi

Arsyad,

mungkin ini puisiku yang sudah basi

tidak laku dijual atau dikonsumsi

apalagi untuk dinikmati

kecuali di antara kita kini

mari berjabat tangan bermaaf-maafan

sebelum diselimuti kain kafan

***

Surat dari Desa

Eva,

suratmu berwarna biru telah kuterima

tentang diriku masih seperti dulu-dulu jua

terkurung di kesunyian kampung

sering termenung mencari senandung

Eva,

di sini tidak ada cita-cita sanjana

tidak ada kereta kencana, musik pesta ria

atau cincin emas kawin pertama

Eva,

di sini hanya punya piala tua

cuma tercenung dalam renungan menerawang

yang dinadakan seruling sumbang dari pegunungan

hidup di desa berbimbang dengan kebahagian

namun kutempuh juga segala ancaman dan kenyataan

karena dara-dara di desa berbaju panjang

dan berwajah tenang

***

Kuserahkan Diriku Ini Kepada-Mu, Tuhanku

Tuhanku, dalam hening di malam sepi

kuceritakan akan kesenyapan hidupku ini

dalam pengembaraan di alam tak berujut

aku sering bermimpi menuju tiada arah

mencari selaput kasih di bumi beku

Tuhanku,

adakah lagi datang buatku cinta yang perkasa

di malam seribu bulan

atau terbang tak kembali

Tuhanku,

berkat kasih-Mu kembali aku mengerti

bahwa hakikat dunia ini hanya sementara waktu

hidup, cinta, dan kemudian mati

lalu masih pantaskah gerimis mataku sepanjang hari

serta merenungi langit ungu

Tuhanku,

betapa pun hampir putus asa dan diburu kematian

tiba-tiba aku sadar

bahwa Engkau dengan kasih melunakkan

jeraji-jeraji dukana diselaput nyawaku yang usang

akhirnya aku tersungkur gemetar

sedang di cakrawala bintang telah pergi

melewatkan malam kian menyepi

dan aku tanpa waham syak ragu lagi

***

Nyani Sunyi

wahai sukmaku yang sunyi

sendiri di antara ramai

deras deru tangismu menanti

biduk tak kunjung sampai

ah,

gairah cintaku yang sezarrah ini

belum jua tertambatkan

Tuhan

kicau murai apakah yang masih berlagu

kalau sukma ini sudah terkulai layu

atau engkau telah berlalu

deru datangkan dingin

aku sedang terbaring bisu

tiada kuasa untuk menjalin

***

Sebuah Kisah Buat Eva

Eva

pernahkah engkau menangis

tersenyum bersama mentari pagi

jawabnya kisah telah bersemi

Eva

pernahkah engkau menangis

muram dan dingin di muka cermin

terekam luka di kening

mencekam kisah di antara musim

angin kering

Ah Eva

bila angin darat telah bertiup ke benua

burung-burung elang kembali ke sarang

ke balik malam!

aku akan bercerita kepadamu

tentang sebuah kisah yang terekam dahulu

di mana aku telah kehilangan khazanah

terasa indah lebih dalam

sebelum kugenggam terbentur ia remuk patah

Eva

tiada sesuatu yang kuberikan untukmu

tiada sesuatu yang engkau berikan untukku

hidup di antara kita

tidak berarti apa-apa

hanya ada rahasia yang sempat kubaca

lalu kutulislah puisi ini untukmu

agar dapat dikenang-kenang sewaktu-waktu

Di Merah Fajar Esok Pagi

di merah fajar esok pagi

kusepuhkan harapan untuk hari tua

bersenandung merebut kedamaian dalam sunyi

pergi melangkah kebukitnya Dante, Pitrarca

walau jari-jari tangan tertancap pada duri

mengiangi ladang dan rawa

berteriak sayu seorang diri

aku borong kerja penuh jadi

kusiuli nafas-nafas duka

serta kuasah wajah puisi rindu

karena ia adalah nyawaku

Doa

Tuhanku

hidupkanlah hamba dalam kesederhanaan

penuh iman

matikan pula dalam keadaan demikian

Kemudian bangkitkan di dalam bilangan

orang-orang miskin

yang kepada-Mu mereka tak berpaling

amien

1 komentar:

Anonim mengatakan...

puisi yang sangat indah...