Puisi-Puisi Abdul Karim Amar
Kapal akan Berangkat
(Buat Sahabatku Arsyad Indradi)
Arsyad,
usia kita tidak terasa merangkak tua
sudahkah engkau membuat surat wasiat
untuk generasi atau untuk anak isteri
sebelum berangkat menuju liang lahat
Arsyad,
peruntungan engkau lebih daripada nasibku
Engkau sudah punya anak, isteri dan apa lagi
berpangkat serta berpenghasilan tetap
sedang aku masih sendiri
termenung terkadang bingung
perkawinan terlalu mahal untukku
berjuta-juta rupiah menghantar jujuran
kemudian nikah ke penghulu baseran
Arsyad,
aku banyak kehilangan seseuatu
kekasih, cinta, serta puisi yang terbakar
digiring usia terasa pangar
aku renungi masa lalu di mana kita ini
dahulu di RRI di untaian mutiara
sekitar ilmu dan seni
kita ramai membaca puisi demi puisi
Arsyad,
sahabat-sahabat serta petinggi-petinggi kita
sudah menutup mata
Yustan Azidin, Hijaz Yamani, Bachtiar Sanderta
Andi Amrullah, Ismail Effendi
Ajamuddin Tifani entah siapa lagi
dan nanti ke raga kita
lalu apa yang kita bawa
hitungan tasybih, zikir atau shalawat
yang dianjurkan imamul haq
atau seperti Hamid Jabbar yang jatuh terkapar
membaca puisi lalu mati
sedang di sana di depan menghadang titian panjang
serambut dibelah tujuh
apakah kita akan jatuh
atau kita tidak membawa apa-apa
kecuali raga yang hampa
ah, hari sudah senja kata D. Zaudhidie
dia pun telah pergi
Arsyad,
entah bisikan apa lagi yang datang
menggumuli jendela kamar yang berdebu
seakan terdengar ketukan pintu
tetapi aku selalu ragu
mungkin satu isyarat buatku
atau pertanda yang lelap di pembaringan
jasadku akan ditandu ke pemandian
Arsyad,
aku yang lama terkapar di Puskesmas
cemas dan terhempas
menatap pasien demi pasien dengan harap
minta diobati dari penyakit ke penyakit
sedang aku pun merasa sakit
Arsyad,
di rumah tua bolong peninggalan bunda ini
untung masih ada Mahmud Jauhari Ali
yang sibuk menulis artikel dan puisi
menyemangatiku—katanya
Anjang kapan menulis puisi lagi
Arsyad,
mungkin ini puisiku yang sudah basi
tidak laku dijual atau dikonsumsi
apalagi untuk dinikmati
kecuali di antara kita kini
mari berjabat tangan bermaaf-maafan
sebelum diselimuti kain kafan
***
Surat dari Desa
Eva,
suratmu berwarna biru telah kuterima
tentang diriku masih seperti dulu-dulu jua
terkurung di kesunyian kampung
sering termenung mencari senandung
Eva,
di sini tidak ada cita-cita sanjana
tidak ada kereta kencana, musik pesta ria
atau cincin emas kawin pertama
Eva,
di sini hanya punya piala tua
cuma tercenung dalam renungan menerawang
yang dinadakan seruling sumbang dari pegunungan
hidup di desa berbimbang dengan kebahagian
namun kutempuh juga segala ancaman dan kenyataan
karena dara-dara di desa berbaju panjang
dan berwajah tenang
***
Kuserahkan Diriku Ini Kepada-Mu, Tuhanku
Tuhanku, dalam hening di malam sepi
kuceritakan akan kesenyapan hidupku ini
dalam pengembaraan di alam tak berujut
aku sering bermimpi menuju tiada arah
mencari selaput kasih di bumi beku
Tuhanku,
adakah lagi datang buatku cinta yang perkasa
di malam seribu bulan
atau terbang tak kembali
Tuhanku,
berkat kasih-Mu kembali aku mengerti
bahwa hakikat dunia ini hanya sementara waktu
hidup, cinta, dan kemudian mati
lalu masih pantaskah gerimis mataku sepanjang hari
serta merenungi langit ungu
Tuhanku,
betapa pun hampir putus asa dan diburu kematian
tiba-tiba aku sadar
bahwa Engkau dengan kasih melunakkan
jeraji-jeraji dukana diselaput nyawaku yang usang
akhirnya aku tersungkur gemetar
sedang di cakrawala bintang telah pergi
melewatkan malam kian menyepi
dan aku tanpa waham syak ragu lagi
***
Nyani Sunyi
wahai sukmaku yang sunyi
sendiri di antara ramai
deras deru tangismu menanti
biduk tak kunjung sampai
ah,
gairah cintaku yang sezarrah ini
belum jua tertambatkan
Tuhan
kicau murai apakah yang masih berlagu
kalau sukma ini sudah terkulai layu
atau engkau telah berlalu
deru datangkan dingin
aku sedang terbaring bisu
tiada kuasa untuk menjalin
***
Sebuah Kisah Buat Eva
Eva
pernahkah engkau menangis
tersenyum bersama mentari pagi
jawabnya kisah telah bersemi
Eva
pernahkah engkau menangis
muram dan dingin di muka cermin
terekam luka di kening
mencekam kisah di antara musim
angin kering
Ah Eva
bila angin darat telah bertiup ke benua
burung-burung elang kembali ke sarang
ke balik malam!
aku akan bercerita kepadamu
tentang sebuah kisah yang terekam dahulu
di mana aku telah kehilangan khazanah
terasa indah lebih dalam
sebelum kugenggam terbentur ia remuk patah
Eva
tiada sesuatu yang kuberikan untukmu
tiada sesuatu yang engkau berikan untukku
hidup di antara kita
tidak berarti apa-apa
hanya ada rahasia yang sempat kubaca
lalu kutulislah puisi ini untukmu
agar dapat dikenang-kenang sewaktu-waktu
Di Merah Fajar Esok Pagi
di merah fajar esok pagi
kusepuhkan harapan untuk hari tua
bersenandung merebut kedamaian dalam sunyi
pergi melangkah kebukitnya Dante, Pitrarca
walau jari-jari tangan tertancap pada duri
mengiangi ladang dan rawa
berteriak sayu seorang diri
aku borong kerja penuh jadi
kusiuli nafas-nafas duka
serta kuasah wajah puisi rindu
karena ia adalah nyawaku
Doa
Tuhanku
hidupkanlah hamba dalam kesederhanaan
penuh iman
matikan pula dalam keadaan demikian
Kemudian bangkitkan di dalam bilangan
orang-orang miskin
yang kepada-Mu mereka tak berpaling
amien
1 komentar:
puisi yang sangat indah...
Posting Komentar